Dulu aku sangat ketakutan bila
kelak kata “kita” tak lagi bermakna “aku dan kau”, tak sehuruf pun dari
rangkaian namaku diizinkan menumpang di benakmu. Namun ketakutanku koyak,
tersundut puntungan mimpi yang kupungut setiap lewat di jalan-jalan.
Aku ingin jadi ini. Aku ingin
jadi itu. Aku ingin menjadi apa pun. Sebab kutahu kau akan selalu mengenaliku.
Ingin-inginku bahkan belum sempat beranjak dari tempatnya dipanjatkan, tapi kau
sudah keburu pergi. Tak apa, aku bisa sendiri.
tidak, aku tidak mendendam. hanya saja, aku tak yakin lukaku mengering hanya dalam semalam. lagipula begitu kan hukum dari alam? kau hanya akan menuai apa yang kau tanam.
aku seharusnya marah. tapi kau tahu kan, marah tak pernah jadi keahlianku. dan menyoal hati, aku memang bukan yang pandai. tapi aku tahu kapan harus idealis, kapan harus realistis; memangkas segala andai.
kepada sesiapa pun yang hatinya pernah membiru sebabku, aku tengah membayar apa yang pernah kulakukan dulu. kini aku tahu, memercayai seseorang perlu selaksa keberanian. berani untuk dikhianati, berani untuk dicurangi. segala yang kupunya tak cukup untuk memberi harga pada keberanian itu. maka terima kasih telah memberanikan diri untuk percaya. meski akhirnya kecewa kusajikan di atas meja.
aku juga seberani itu percaya. dan sedalam ini kecewa.
sebelumnya aku hanya dibuai oleh keramaian kota dan dinginnya pusat perbelanjaan. kini aku merasa nyaman. merasa membumi, melebur bersama dua elemen penyusunnya; air dan daratan.
yah, tapi aku sempat kecewa pada senja hari itu. ia menolak untuk dinikmati olehku.
tapi aku menyukai malamnya. setelah menghilang tanpa aba-aba, rupanya matahari mencari pengganti dirinya untukku. bulan yang begitu sabit dan jutaan bintang. membuatku tak ingin pulang.
aku membayangkan diriku berbaring di pasir. memandangi langit seraya membicarakan masa depan bersama seseorang. namun ia malah mengajakku membangun istana pasir. menyebalkan, ya?
dan ya, tubuhku ringkih. angin malam tak begitu kusukai. kantuk dan lelah pun membuatku ingat rumah. dalam perjalanan pulang, ia menghangatkan jemari--dan hati. lalu aku tertidur hingga pagi.
anyer, 2016
![]() |
| blurry; just like our love story. (in frame: rian & arum) |
tapi itu tidak begitu penting selain mereka; dua yang tidak pernah berubah. mereka tetap seperti mereka saat ruhku baru ditiupkan, saat pertama kali kakiku berjalan tertatih menuju mereka, saat bibir mungilku terbata memanggil nama mereka.
35 tahun bersama. aku yakin mereka ingin lebih. saat itu pula kuingin kelak hatiku berlabuh; pada hati lain yang sedamai subuh.
aku tak tahu berapa helai rambut mereka yang memutih setiap harinya. aku tak tahu bagaimana caranya, tapi kumohon, jangan dulu menua, mah, pak. kalian harus melihatku mendewasa, melihat mimpiku mengangkasa.
doaku untuk kalian. selalu.
selamat 35 tahun pernikahan.
maaf telah menghilang begitu saja. aku merasa bersalah telah berharap kamu akan pulang ke rumahmu; aku. sedang kenyamanan akan rumah yang baru nampaknya telah melenakanmu.
benar, aku rumah yang pasrah. tiada hakku memilih siapa tuanku. jika kamu orangnya, aku siap membuka pintuku untuk kepulanganmu. kapan saja; di tengah malam, ketika hujan badai sekalipun.
namun jika bukan kamu, biar aku mengabadikan aroma tubuhmu dalam diriku, agar aku tidak terlihat menyedihkan. sebab sepi membuat sesuatu terlihat mati, bukan? aku tidak ingin mati.
jika bukan kamu orangnya, pasti akan ada orang lain yang datang dan bertanya, mengapa tubuhku beraroma kamu? demi tuhan, aku belum mempersiapkan jawaban atas pertanyaan itu. aku tak peduli.
omong-omong, kamu ini tuan yang jahat ya? kamu tahu aku buruk, rapuh dan akan hancur. tapi kamu pergi. dengarlah, kamu bisa perbaiki aku kalau kamu mau. sayangnya tidak, kamu tidak berkenan.
aku? mengapa aku? apa kamu pernah melihat sebuah rumah memperbaiki dirinya sendiri?
aku butuh kamu. tidakkah kamu mengerti?
aku tidak sedang mengiba. aku hanya berharap, jika sesuatu dalam hatimu menuntunmu menuju aku, kuharap aku telah baik-baik saja, telah rapi dan tidak berantakan lagi. telah lebih layak menaungimu dan mimpi-mimpi besarmu.
dan kamu, telah jadi tuan yang baik bagi rumahnya; aku.
salam rindu.
Aku tak pernah menyadari bahwa ternyata waktu bergegas begitu lekas. Sebab segala tentangmu masih terasa seperti kemarin.
Kemarin kau masih mengejarku. Kemarin kau masih di pelukku. Kemarin kau bilang kau mencintaiku. Kemarin kau bilang kau mengagumiku. Kemarin yang mana? Ah, itu kemarin yang sudah lama sekali. Memori barumu mungkin tak lagi sudi menyimpan kemarin-kemarinku.
Di suatu kemarin, kau memintaku menemanimu dengan caramu yang tak terduga. Dan seperti yang pernah kukatakan padamu, tanpa kau minta, aku takkan berniat untuk pergi darimu. Aku senang berada di dekatmu, memeluk mimpi-mimpimu, seraya menyelipkan doa di antaranya.






















