kepada seluruhmu, kupercayakan segala yang meragukanku di masa lalu. termasuk di dalamnya, ibadah seumur hidupku, dalam sepanjang-panjang perjalanan, dan apa pun yang turut menyertai.
dalam perjalanan yang belum seberapa ini kutahu, kau dan aku menempuh cara yang sama redakan igauan tengah malam satu sama lain; dengan kecup di bibir, belai halus di kepala, serta yang paling kusuka, tepuk-tepuk kecil hingga masing-masing kita tertidur lagi.
pelan-pelan kuyakin kita juga akan temukan cara--tidak harus sama, untuk kau dan aku padamkan amarah yang tanpa sengaja memercik. untuk kau dan aku rendahkan ego yang kadang ia tidak tahu dirinya sudah cukup tinggi bagi si pemilik. atau untuk kau dan aku sekadar senyapkan segala di kepala yang berisik.
hari ini kali pertama kuperhatikan pantulan siluetmu yang memunggungiku di hadapan cermin.
"masih kebesaran nih." ujarmu seraya memutar punggungmu.
sedikit lagi—seharusnya satu sentimeter lebih kecil lagi, mungkin lebih pas di badanmu. melihat jas biru itu melekat nyaris sempurna di tubuhmu, sudut mataku mendadak perih. diam-diam kusembunyikan air mataku dalam sekali seka.
sedikit lagi—dalam hitungan kita akan bersama-sama membagi apa yang kita percayai. untuk saat ini dan berjuta-juta saat setelah ini.
apa pun wujudnya, jika itu denganmu, demi tuhan aku tidak akan pernah lari.
sedikit lagi—untuk terus jatuh hati setiap hari,
sampai mati.
setelah hampir dua tahun, menunggu kamu pulang masih membuat debar di seluruh bilik jantung. sementara dalam selimut tebal, sedang meringkuk aku dan ambisiku yang tempo hari kian tidak terdefinisi. apa yang kukejar?
padahal sudah bisa makan setiap hari bebas pilih menu. tagihan listrik dan internet terbayar tepat waktu. sedikit sedikit sudah bisa bantu ibu.
tapi apa hanya itu?
jawabannya mungkin tidak.
sebab beberapa lagi masuk ke daftar rencana yang bahkan belum tahu kira-kira siapa yang punya andil lebih besar; aku, kamu atau doa ayah ibu, seperti yang selalu.
sebentar lagi kamu datang. seperti biasanya, beberapa detik pertama akan kita habiskan untuk saling berpelukan. setelahnya kita akan makan apa pun yang bisa dipesan dengan ojek online. setelah kenyang, kumohon kali ini jangan tertidur dulu ya, sayangku.
sebab ingin kubicarakan satu dari sekian rencana yang di dalamnya juga ada kamu. semoga terwujud di sebaik-baik waktu.
jakarta sedang hujan ketika sesuatu tiba-tiba datang menyalamiku. ia memperkenalkan diri sebagai sedih—aku telah mengenal banyak sedih, di setiap kota yang kusinggahi, di tiap pasang mata yang dikukenali—tapi yang ini, ia terasa asing.
sulit menerima ia sebagai sedih. sebab kuyakin ia bernama lain.
kuperhatikan dari bibirnya tidak berhenti dongeng-dongeng tentang bunga matahari yang mendadak layu, api yang melahap habis bangunan tua di pusat kota, juga anjing tetangga yang selalu melolong pukul tiga pagi.
sudah habis satu musim, tapi hujan belum reda. pun dongeng-dongeng aneh yang karenanya kutahu bahwa ia hanyalah kumpulan kecewa, amarah, sumpah serapah yang sudah tertahan di ujung lidah.
benar, sudah benar ia menamai dirinya sedih.
aku masih tidak menyangka, keriuhan jakarta dan segala yang bertubrukan di kepala sanggup membawa kita hingga puluhan kilometer di barat pulau jawa. jika hanya ada satu kata untuk menggambarkan perjalanan ini, "nekat" mungkin jadi satu-satunya yang akan kusebut.
tapi kenekatan dan segala resikonya itu adalah pertukaran yang paling sesuai jika dengan dinginnya gunung dan luasnya laut lepas yang tidak kita temui di ibukota.
maka begitu sampai di bibir pantai, kubiarkan masing-masing kita menikmati segala yang dihamparkan semesta. pasir putih bersih, ombak yang selalu berupaya menjangkau kaki-kaki kita, hingga kelomang yang ternyata bisa berjalan sangat cepat tanpa rumahnya.
kulihat tiba-tiba kamu jadi anak kecil yang riang, menyambut gulung demi gulung ombak yang menerjang. yang tiap derunya membuatmu memelukku lebih erat, membiarkan punggungmu memecah ombak. seolah hanya kamu yang boleh meredakannya.
harapku satu; bila kelak di perjalanan lainnya ada ombak serupa, atau bahkan yang lebih besar, semoga kita juga akan menyambutnya dengan selapang-lapang dada, setenang-tenang jiwa. sebab mungkin menjadi riang tidak akan ada dalam pilihan.
sayangku, terima kasih untuk perjalanan ini.
dalam tidurmu mungkin aku hanya muncul sesekali. tergantikan dengan seluruh manusia yang kapan waktu kamu temui tapi memori di kepalamu tidak peduli.
tapi dalam sadarmu, kupastikan namaku di daftar hadir nomor satu. segila-gilanya dunia yang kutulis di paragraf satu, aku di samping kamu selalu.




















