"itu tempat apa?"
"semi-bar gitu,"
"kamu mabuk?"
"ya enggak lah, sayang,"
"nggak usah ya. tunggu aku, kita makan bareng aja di rumah ya,"
aku bisa saja marah. karena laki-laki ini melarangku pergi--sesuatu yang tidak sekali pun pernah ia lakukan. tapi seperti biasanya, marah tidak pernah jadi keahlianku. dan dalam hal ini, marah menjadi hal yang tidak pada tempatnya.
aku justru menurut, menunggu ia menjemputku seperti hari-hari sebelumnya. lalu kami pulang dan makan bersama di rumah.
hari ini, kukatakan padanya saat perjalanan ke kantor, aku mungkin akan pulang lebih malam. karena rekan kerjaku berulangtahun dan mungkin aku akan ikut dalam perayaan kecilnya.
"nanti kamu kabarin aja ya tempatnya di mana. nanti aku jemput. asal jangan mabuk ya,"
ia mengatakan hal itu bukan karena aku suka mabuk. hanya kukenali kekhawatiran dan kasih sayang luar biasa di nada bicaranya. atau barangkali ia tahu betul bahwa aku sudah setiap hari mabuk dengan apa yang kami sebut cinta. maka mabuk-mabuk lainnya menjadi hal yang sama sekali tidak perlu.
Jakarta,
dalam keadaan setengah mengantuk
menunggu ia di lobi kantor
akhir-akhir ini di kepalaku berputar lebih banyak imaji tentang kita. kadang kulihat kita sebagai sepasang yang riang, seperti kucing-kucing kecil yang berlarian di beranda rumahmu. kadang kubayangkan kita sebagai dua yang lebur jadi satu, saling cumbu di balik pintu.
tidak jarang, kutemui kita yang berseteru. kamu dengan diammu yang selalu coba kuterjemahkan menjadi kata-kata. atau aku dan keakuanku yang kamu tundukkan tanpa banyak bicara.
tentu akan lebih banyak lagi imaji yang tidak terpikirkan. apa pun itu, semoga kelak ia nyata sebagai sesuatu yang membuat kita saling menguatkan segala lemah, saling meredakan segala amarah, dan saling mencinta tanpa mengenal sudah.
08.00 a.m
kita duduk bersisian, menikmati pagi yang hening dalam balutan baju hangat masing-masing. hanya aku, kamu dan burung-burung yang entah bicara apa—semoga segala yang bisa diaminkan semesta.
masih ada kabut dan dingin sisa hujan deras semalam. tapi entah mengapa hatiku menghangat. mungkin karena teh tarik panas yang sambil kita sesap sesekali. atau sisa pelukmu malam tadi?
apa pun itu, kurasa ini pagi terbaik yang pernah ada. semoga untukmu juga.
dari kejauhan kulihat teman-temanmu sibuk mengambil gambar. gunung gede, pangrango dan salak dalam satu frame memang sulit untuk ditepis keindahannya. sama seperti kamu dan segala kebaikan yang tumbuh di dadamu.
kamu tahu, selalu ada banyak kata-kata di kepala yang ingin kutukar dengan milikmu. termasuk hari ini, aku dan kamu bertukar cerita seperti biasanya. tentang kucing-kucing kita yang semakin hari semakin menggemaskan, tentang teman-temanmu dan cerita-cerita lucu mereka, atau tentang betapa canggihnya tiktok si aplikasi yang dulu kupikir sangat menyebalkan. bahkan tentang imaji paling liar kita di masa depan.
kurasakan waktu berjalan lebih lambat dari biasanya. pagi ini ia tidak terburu-buru. tidak, sampai tiba-tiba perutku berbunyi. oke ayo kita makan, farhansyah!
aku benar-benar masih ingat pedihnya. dan berharap tidak terjadi lagi. tidak kapan pun, tidak hari ini.
kupandangi kamu lekat-lekat. mencari segala yang tidak kutemui padamu hari ini. aku bahkan belum menemukanmu ketika ingatan itu tiba-tiba mengejar-ngejar. dan aku masih meyakinkan diriku bahwa yang kulihat adalah kamu, bukan siapa pun dari cerita lalu.
aku menangis kencang. kukatakan berulang-ulang, aku takut, aku takut.
sesaat dekap hangat yang begitu kuhafal, kata maaf yang saling kita bagi berkali-kali, juga sesuatu yang berarti "ayo kita mulai lagi", membuatku tahu bahwa itu kamu. selalu kamu.
said a broken-hearted soul.
"hug yourself first."
i believed nobody could ever save your soul. nobody but you.
"i can't. lend me your arms."
or maybe we could save each other's soul.
we did, farhan. we did well.
we're here.
we're heal.
satu hari ulang tahun
jika punya setiap hari
untuk merayakan cinta?
atau bagaimana kalau kita
merayakan cinta di hari ulang tahun?
seperti saling bertatapan,
berpelukan,
atau melakukan hal berimbuhan ber—kan
lainnya yang paling kita sukai,
yang membuat perayaan ini menjadi
lebih megah dari cinta itu sendiri.
bekasi, 7 september 2020




















